JAMUR, dalam sejarah telah dikenal sebagai makanan sejak 3000 tahun yang lalu, dimana jamur menjadi makanan khusus buat raja Mesir yang kemudian berkembang menjadi makanan spesial bagi masyarakat umum karena rasanya yang enak. Di Cina, pemanfaatan jamur sebagai bahan obat-obatan sudah dimulai sejak dua ribu tahun silam.
Jamur merupakan salah satu bahan makanan yang bergizi tinggi non kolesterol. Dari hasil penelitian, rata-rata jamur mengandung 14-35 % protein, kalori sebesar 100 kj/100 g dan 72% lemaknya tidak jenuh (unsaturated). Asam amino esensial bagi tubuh yang terdapat pada jamur ada ± 9 jenis dari 20 asam amino yang dikenal yaitu lysin, methionin, tryptophan, theonin, valin, leusin, isoleusin, histidin dan phenilalanin. Jamur kaya akan vitamin dintaranya B1 (thiamine), B2 (riboflamin), niasin dan biotin. Selain itu jamur mengandung berbagai jenis mineral yaitu K, P, Fe, Ca, Na, Mg, Mn, Zn, dan Cu.
Di bawah ini merupakan jenis jamur yang ada dan telah dibudidayakan untuk kebutuhan konsumsi di seluruh dunia diantaranya :
1. Jamur Tiram/Shimeji/Oyster Mushroom (Pleurotus sp.)
2. Jamur Payung/Shiitake/Chicken Mushroom (Lentinus edodes) berkhasiat menurunkan kandungan kolesterol dan gula dalam darah, mengobati penyakit Kanker dan hepatitis B.
3. Jamur Kuping/ ikurage/Jew’s Ear Mushroom (Auricularia polytricha) berkhasiat obat mengurangi panas dalam (rendaman jamur kuping semalam diminum), mengurangi rasa sakit pada kulit akibat luka bakar (dikompres dengan air rendamannya), mengobati tekanan darah tinggi, kurang darah, ambeien, datang bulan tidak teratur, memperlancar peredaran darah dan penawar racun.
4. Jamur Merah/Ling-zhi/Mannetake (Ganoderma lucidum) berkhasiat mencegah dan mengobati penyakit influenza.
5. Jamur Menari/Maitake/Kumotake (Grifola frondosa) berkhasiat meringankan gejala kanker payudara, paru-paru dan hati, juga mengurangi efek samping yang ditimbulkan oleh sitostatika dan dapan menekan pertumbuhan virus HIV. Senyawa plosakarida B 1-6 glukans dalam maitake diyakini berperan menghambat pertumbuhan dan penyebaran sel kanker lewat peningkatan efektivitas semua sel dalam pertahanan tubuh disamping meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap sitostatika dan radiasi.
6. Jamur Merang/Straw Mushroom (Volvariella volvaceae)
7. Hiratake (Agrocybe aegerita)
8. Jamur Kancing/Button Mushroom/Champignon (Agaricus bisporus)
9. Jamur Tauge/Enokitake/Winter/Golden Mushroom (Flammulina velutipes)
10. Jamur Kuping Putih (tremella fusiformis)
11. Jamur Pucuk/Elm Bunashimeji.
Jamur merang merupakan jenis jamur yang pertama kali dapat dibudidayakan secara komersial. Di Cina jamur merang mulai dibudidayakan sejak pertengahan abad 17, dan di Indonesia tanaman ini diperkirakan mulai dibudidayakan sekitar tahun 1950-an.
Jamur kancing dapat dikatakan merupakan kerabat terdekat dari jamur merang, hal tersebut karena bentuk umum dan sifat-sifat keduanya yang sangat mirip. Secara anatomis sosok jamur merang dan jamur kancing terdiri dari tudung yang berbentuk seperti payung, di bawah payung terdapat lamela, tangkai, serta akar semu yang disebut rizoid. Perbedaan antara jamur merang dengan jamur kancing yaitu jamur merang mempunyai cawan pada bagian bawah tangkai, sedangkan pada jamur kancing tidak terbentuk cawan, tetapi mempunyai cincin pada bagian atas tangkai/di bagian bawah payung. Jamur merang berwarna coklat muda sedangkan jamur kancing berwarna putih bersih. Spora jamur merang berwarna kuning kemerahan sedang spora jamur kancing berwarna putih. Baik jamur merang maupun jamur kancing setelah mencapai stadia dewasa, tudungnya yang berbentuk payung agak membulat itu akan terbuka penuh (mekar) dan bilahnya mulai berwarna merah muda kecoklatan. Umumnya jamur merang atau jamur kancing dikonsumsi sebelum mekar.
Dalam budidayanya, jamur merupakan tanaman yang ditanaman dengan temperatur, kelembaban dan ventilasi yang terkontrol. Pada budidaya jamur merang diperlukan lingkungan dengan temperatur ± 33 0C dan kelembaban ± 85 %. Pada budidaya jamur kancing diperlukan lingkungan pertumbuhan dengan temperatur ± 32 0C dan kelembaban ± 83 %.
Dalam sistem penanamannya dikenal tiga sistem yaitu dengan papan, talang dan dengan kantong. Sistem talang digunakan untuk penanaman yang besar dan merupakan metode yang umum. Sistem kantung dapat dibuat dengan biaya yang terbatas dan menjadi semakin popular saat ini. Metode ini juga membantu untuk mengeliminir masalah hama dan penyakit yaitu dengan memisahkan kantung yang terkontaminasi tersebut. Jamur yang dibudidayakan biasanya sudah dapat dipanen setelah ± 10 hari, tapi dapat lebih lama tergantung pada temperatur dan kelembaban lingkungannya

A. Definisi
Jamur merang dalam kaleng atau botol adalah produk yang dipersiapkan dari jamur merang segar genus Volvariella, antara lain Volvariella volvacea, dikemas secara hermatik dalam kaleng atau botol dengan medium air atau larutan garam, dan disterilkan dengan panas dengan cara yang tepat.

B. Deskripsi
Jamur merang yang dipergunakan harus yang msih segar, baik dan aman, serta sesudah dibersihkan maupun dipangkas (training) masih dalam keadaan baik.
Jamur merang dikemas dapat berupa:
 Utuh dengan kulit (Whole unpeeled) yaitu jamur dengan kuliltnya (volva)
 Utuh tanpa kulit (Whole peeled) yaitu jamur yang dibuang kulitnya (volva), tetapi tudungnya masih belum terbuka.
 Pecah (broken) yaitu jamur denga kulitnya (volva) yang sudah pecah semua atau tudungnya
sudah terbuka semua. Potongan jamur yang kecil tidak boleh lebih besar dari 20 % berat seluruhnya.
 Potongan dan batang (pieces atau stems) terdiri dari jamur kecil, besar dan yang sudah pecah, tetapi jumlah batang lepasan tidak lebih dari 40 % atas dasar berat.